Menyikapi Perbedaan Pilihan Politik Menurut Trilogi Nusa Putra

Isu SARA bertentangan dengan salah satu nilai dalam Trilogi Nusa Putra yakni, Cinta Kasih Ilahiyyah.

Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat dan Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota
Sukabumi baru saja selesai digelar dalam tema agenda besar bangsa bernama Pilkada Serentak 2018, 27
Juni 2018 lalu.

Hiruk pikuk politik tanah air begitu semarak dalam berbagai multiplatform media, dari mulai cetak, elektronik, online, hingga media sosial. Berbagai macam cara kandidat dan tim sukses untuk memenangkan kontestasi lima tahunan tersebut. Sayangnya, strategi dalam memenangkan kandidat dengan politik identitas mengangkat isu-isu SARA dan isu-isu keagamaan kembali menyeruak dari kelompok pendukung konstentan.

Memang tidak bisa dipisahkan antara agama dan politik, tapi banyak menggunakan cara-cara yang kurang elegan jika dilakukan dengan menebar isu-isu SARA dan agama.

“Mengapa dikatakan tidak elegan, karena startegi politik identitas dengan upaya memisahkan satu kelompok dengan kelompok lainnya dengan isu-isu SARA agar muncul perbedaan-perbedaan untuk menakar idantitas kelompok pro dan kontra sangat berbahaya, karena dampaknya dapat memecah belah persatuan bangsa dan ini harus dihindari,” tutur Rektor NPU Dr. H.Kurniawan, ST., M.Si., MM. di ruang kerjanya.

Di tambahkannya, upaya pembunuhan karakter dengan cara menyebarkan isu-isu sara si A itu ini, atau si B ini
dengan memisahkan pandanganya berdasarkan sara adalah cara tidak elok dan berbahaya. Tentunya cara-cara tersebut bagi warga Nusa Putra harus dihindari karena tidak sejalan dengan semangat Trilogi Nusa Putra. Dalam hal cintakasih Illahiyah dimana  agama, dalam Trilogi NusaPutra ditempatkan sebagai jalan hidup.

“Ketika mencintai tuhannya menjadi jalan hidup bagi insan Nusa Putra, semuanya akan sampai pada pemahaman bahwa semua orang sama-sama mencari kebenaran dengan caranya sendiri sehingga muncul perbedaan tafsir dalam beragama cara mencintai Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT sehingga isu keagamaan harus dihindari” dan tidak boleh dikompromikan. Sedangkan dalam politik itu selalu ada kompromi dalam menggapai tujuan dan kekuasaan karena sipatnya tadi. Jadi sangat bertolak belakang,” imbuh Kurniawan.

Menurutnya, isu-isu SARA bertentangan dengan salah satu nilai dalam Trilogi Nusa Putra yakni, Cinta
Kasih Ilahiyyah.

Pertama, harus dihindari isu keagamaan dalam merebut konstituen karena setiap insan pasti memiliki tafsir yang berbeda sehinggga harus dipisahkan antara tata cara beragama dan tujuan beragama yang akan membentuk ahlak ummatnya dengan jalan mencintai tuhannya sehingga terbentuk ahlak yang mulia.

Agama itu adalah cara orang beribadah untuk menyampaikan kecintaanya kepada tuhan untuk membentuk ahlak pemeluknya, sedangkan tujuannya itu adalah sebuah nilai kasih sayang yang tercermin dalam prilaku ahlaknya dalam berinteraksi dengan sesama umat manusia. Dalam Islam tercermin dalam kalimat Bismillahirrahmanirrahim (Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) jadi nilai cinta kasih sesama manusia menjadi nilai utama.

Kedua, politik identitas menggunakan isu SARA, itu merusak tatanan kehidupan manusia, dan nilai-nilai
cinta kasih kepada Allah SWT, serta dalam prakteknya malah merusak nilai-nilai akhlak dalam beragama. Padahal Nabi Muhammad SAW sendiri diturunkan ke dunia, untuk menyempurnakan akhlak manusia, dan bukan diturunkan ke dunia untuk mendirikan negara atau tatacara mengelola negara yang diperbutkan dalam Pilkada.

“Dalam konteks berpolitik, umat Islam bisa meniru akhlak Rasulullah Muhammad SAW yang melindungi
kaum Yahudi dan Nasrani walaupun berbeda keyakinan. Bagaimana mungkin seseorang mampu memimpin dan mengayomi orang lain, jika selalu menjadikan isu SARA dalam politik identitas sebagai cara meraih kemenangan. Jadi, bagi insan Nusa Putra, Pilkada menjadi refleksi dalam memahami cara-cara yang benar dan fair dalam
memenangkan kontestasi dengan cara beretika dan berakhlak,” tambah Kurniawan lagi.

Ketiga, mari beri masyarakat pendidikan politik yang cerdas, jangan tergiur perkataan santun atau
bacaan Al-Qurannya pintar tapi ahlak dan adabnya jauh dari nilai-nilai ahlak rosululloh, karena itu bukan satu-satunya ukuran Muslim yang berakhlak. Untuk itu jangan mudah di provokasi oleh sipat-sipat yang jauh dari ahlak mulia yang dicontohkan rossululloh. “Saat ini pemenang Pilkada di Jawa Barat adalah pasangan nomor urut satu, Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum, walaupun masih sementara versi qick count dan itu tentunya tidak mutlak 100% benar. Sebagai orang sains kaum intelektual warga Nusa Putra harus percaya dengan mencerahkan, karena quick count adalah ilmu.

Keempat, dalam konteks Pilkada ini, insan Nusa Putra harus berpatokan segala sesuatunya adalah takdir
Allah SWT. Siapapun yang keluar sebagai pemenang, itulah takdir dan ketetapan Allah SWT.

“Sehingga jika kita menghalang-halangi takdir Allah SWT, berarti bukan insan yang mencintai Allah SWT. Takdir
Allah adalah ketetapan takdir yang terbaik untuk kita saat ini, untuk itu kita harus legowo walupun tidak sesuai dengan pilihan dan kita harus mendukungnya selama kepemimpinan setelah dilantik dan disahkan sesuai ketentuan undang-undang,” tandas Kurniawan mengakhiri perbincangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *