Taufik Rahman, Anak Buruh Pendekor Hajatan yang Bercita-cita Menjadi Desainer Mesin

Keputusan Taufik Rahman mengurungkan niatnya bekerja di pabrik selepas lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mulai berbuah manis. Kini, juara kelima Nasional Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK tahun 2019, bidang Mechanical Engineering Computer Aided Design (CAD) ini, bisa berkuliah dan melanjutkan mewujudkan cita-citanya menjadi desainer mesin.

Taufik, menjadi salah satu mahasiswa penerima program beasiswa 1.000 anak negeri Universitas Nusa Putra (NPU) Sukabumi Tahun Akademik (TA) 2019-2020. Putra pasangan buruh pendekor hajatan dan ibu rumah tangga ini, sempat ingin berhenti mengejar cita-citanya menjadi desainer mesin dan berencana melamar kerja di pabrik.

Saat ia memberitahukan keinginannya untuk kuliah, kedua orang tuanya tidak menyanggupinya. “Kata ibu waktu itu gak bisa, gak ada biaya, ibu sama bapak hanya sanggup sampai SMK saja, kecuali kamu dapat beasiswa, kalau tidak ada cari kerja saja di pabrik” ujarnya, Kamis (12/9/2019).

Beruntung Taufik Rahman bisa mendapat kesempatan kuliah.  Bapaknya, Asep Suryana, selain tukang dekorasi hajatan juga buruh sawah yang hanya tamatan sekolah dasar. Sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga, sesekali membantu suaminya jadi buruh di sawah. “Ibu hanya lulus SD,” kata anak pertama dari tiga bersaudara tersebut.

Keluarganya tinggal di Desa Curugluhur, Kecamatan Sagaranten, Sukabumi. Semasa Sekolah di SMK Negeri 1 Sagaranten, Taufik jarang pulang ke rumah, ia lebih sering tinggal dan menginap di bengkel sekolah.

Sejak kelas 10, dia aktif di berbagai kegiatan sekolah, di Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Paskibra, Pramuka, pencak silat, Taufik juga melatih Computer Aided Design kepada adik-adik kelasnya setelah selesai jam sekolah. “Nginap di sekolah sekalian menemani guru-guru yang jauh yang nginap, pulang ke rumah paling sabtu malam minggu,” ujar Taufik.

Selain melatih adik kelasnya dan jadi pelatih berbagai ekstra kurikuler, ia sering diminta bantuan untuk kegiatan-kegiatan sekolah. Karena prestasi dan keaktifannya, saat kelas 12, Taufik mendapat beasiswa bebas biaya SPP. Hal itu, sangat membantu meringankan beban orang tuanya.

Selepas lulus SMK, Taufik mulai mencari beasiswa kuliah. Tidak lama, dari pembimbingnya waktu LKS, dia mendapat kabar ada program beasiswa kuliah di NPU Sukabumi. Lalu, dari laman web NPU Sukabumi dia mendapat informasi  program beasiswa 1.000 anak negeri, salah satunya jalur juara olimpiade. Berbekal informasi tersebut ia memutuskan mengikuti seleksi tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.

Bersama ratusan peserta lainnya, Taufik mengikuti seleksi beasiswa, dari mulai tes bahasa Inggris sampai wawancara. Satu minggu setelahnya, dia mendapat kabar kelulusannya di web NPU Sukabumi. Bergegas ia menyampaikan kabar baik itu kepada orang tuanya. Orang tuanya, kata dia kembali bertanya soal beasiswanya. “Kalau beasiswanya kecil, mereka tidak sanggup menambah biaya kuliah,” ucapnya.

Kepada orang tuanya, ia menjelaskan beasiswanya berupa pembebasan biaya pendaftaran dan biaya kuliah per semester sampai lulus, orang tuanya setuju. Kini, Taufik sudah mengikuti pembinaan calon mahasiswa penerima program beasiswa 1.000 anak negeri di kampus NPU Sukabumi, ia sudah siap mengejar cita-citanya, program studi Teknik Mesin dipilihnya sesuai minatnya sejak SMK.

Bapaknya, Asep Suryana merasa bangga anaknya bisa mendapat beasiswa. “Saya merasa bangga dan bersyukur kepada Allah SWT, anak saya telah berprestasi dengan baik, mendapat beasisiwa di sini, mudah-mudahan kembali berprestasi seperti kemarin,” ucapnya setelah acara pembekalan dan penandatanganan surat pernyataan ratusan calon mahasiswa program beasiswa 1.000 anak negeri, TA. 2019 – 2020, Selasa (13/8/2019) lalu.

Comments are closed.