Nusaputra.ac.id – Meskipun kali pertama ke Sukabumi, Jawa Barat, Slimani Laila (22 tahun), Mahasiswi asal Universite d’Avignon, Prancis ini mengaku tidak menemui banyak kesulitan untuk tinggal dan beradaptasi di Sukabumi.

Slimani Laila datang ke Sukabumi pada 4 Februari 2020 lalu untuk mengikuti program magang (internship) di Universitas Nusa Putra (NPU) Sukabumi selama enam bulan. Berbincang dengannya belum lama ini di Language Centre, Laila bercerita keluarganya sempat merasa khawatir ketika dirinya mengatakan akan mengikuti internship di Indonesia.

“Mama saya sempat khawatir, akhirnya saya dan mama mencari informasi tentang Indonesia di internet. Dan hasilnya, menurut mama tidak ada yang buruk di Indonesia yang sekiranya dapat mencelakai saya,” kata Laila dalam bahasa Inggris.

Namun, Indonesia dikenal Laila tidak hanya melalui bantuan internet, cerita sepupunya yang pernah bekerja di Bali selama dua minggu, menguatkan niatnya untuk pergi ke negara yang menurutnya memiliki alam yang sangat asri sekali ini.

Laila mengaku memutuskan mengikuti program internship di Universitas Nusa Putra karena ingin belajar lebih mandiri, dan ingin mengembangkan ilmu bahasa Inggrisnya serta menambah pengetahuan bisnisnya. Di Prancis, mahasiswa semester enam ini juga bekerja di akhir pekan, di sebuah perusahaan yang menjual berbagai produk dari pakaian sampai furniture.

Slimani Laila, berswaphoto bersama dengan siswa-siswi salah satu SMA di Cibadak dalam kunjungannya bersama para Duta Kampus, Selasa (18/2/2020)Sumber  photo :  Slimani Laila 

Selama menjalani masa internshipnya, Laila akan membantu mahasiswa Universitas Nusa Putra untuk mengembangkan kemampuan bahasa Inggrisnya dan dia akan belajar menjadi asisten dosen mata kuliah bahasa Inggris. “Saya juga mau bergabung di tim promosi kampus,” ujar Laila. Dan rencana itu mulai dia lakukan dengan mengikuti kegiatan Duta Kampus ke salah satu SMA di wilayah Cibadak, Sukabumi pada hari Selasa (18/2/2020).

Anak bungsu dari empat bersaudara ini menyebut bahasa tidak menjadi kendala utama dirinya beradaptasi, karena bahasa Inggris ternyata menurut dia sudah familiar digunakan di kampus Nusa Putra.

Namun, hal itu tidak membuat Laila mengurungkan niatnya untuk belajar bahasa Indonesia, ia pun mulai tekun belajar bahasa Indonesia dari mahasiswa asing yang sudah ada di Universitas Nusa Putra.

Menurut mahasiswa jurusan Bahasa untuk Bisnis Internasional ini, bahasa Indonesia itu cukup mudah dipelajarinya, dia pun berharap bisa menguasainya selama internship. “Selamat siang, selamat malam, suka, tidak suka,” ucap Laila, mengulang beberapa kata yang sudah dia kuasai sambil tersenyum.

Bagi Laila, tinggal beberapa saat di Sukabumi mengharuskan dirinya belajar beradaptasi dengan budaya Sukabumi, dan dengan senang hati, ia mengatakan akan melakukan dengan cara belajar.

Ia menambahkan, untuk kebudayaan relatif mudah diterimanya karena mayoritas warga Sukabumi beragama muslim seperti dirinya. Namun terkadang, imbuh Laila, banyak orang yang masih bersikap penasaran saat melihat dirinya. “Baik orang-orangnya, wajah saya beda suka dilihat terus seperti penasaran, tapi pasti bukan maksud tidak baik,” kata pemilik tinggi badan 162 cm ini.

Sedangkan untuk urusan makanan, Laila malah mengaku sudah memiliki makanan khas Indonesia yang sudah disukainya. Dia menyebut rendang rumah makan Padang salah satunya, selain itu dia juga mulai menyukai martabak Sukabumi.

Di Sukabumi, Laila telah tinggal di perumahan Nusa Putra Residance, Cisaat, Sukabumi. Untuk mengisi hari liburnya, Laila berencana akan mengunjugi tempat-tempat menarik di Sukabumi, tujuannya untuk menyalurkan hobinya menulis selama ini.

Beberapa karya tulisannya segera ia tunjukan di media sosialnya, salah satunya tulisan tentang Kota Tokyo, Jepang. “Saya juga hobi baca buku, nonton film series dan menyanyi,” ujar penyuka warna biru langit dan makanan Italy itu.

Ketika ditanya soal rencana masa depan, gadis yang tinggal di kota Avignon, di selatan Prancis ini mengatakan akan terus belajar untuk mencapai cita-citanya bekerja di perusahaan internasional atau menjadi jurnalis internasional.

Mengakhiri obrolan, Laila mengatakan dia menemukan ada kesamaan antara belajar di Prancis dengan Nusa Putra, yaitu kesamaan literasi di perpustakaannya. “Buku-buku di sini, perpustakaanya mirip dengan di Prancis,” tandas Laila.

Comments are closed.