Makna Cinta Kasih Ilahiyah dalam Trilogi Nusa Putra

Mengapa kita menempatkan Cinta Kasih Ilahiyah?

Seringkali sebagai mahluk, kita menganggap pentingnya bertuhan, itu semata karena dasar rasa takut atau imbalan pahala. Contohnya, banyak manusia, jika mempercayai atau mengimani Tuhan, maka ia akan mendapat sorga.

Berbicara Tuhan, tentunya pertanyaan paling sederhana adalah Tuhan yang mana? Karena kerapkali dalam prakteknya, bibir manusia bisa saja berteriak lantang mencintai Tuhan, tetapi pada saat bersamaan justeru menuhankan selain Tuhan yang wajib disembah.

“Hal ini, akibat manusia dengan segala keterbatasannya memilih bertuhan sesuai tradisi dan cara pandang turun temurun semata. Padahal sejatinya kita menempatkan Cinta Ilahiyah adalah semata karena kita mencintai Tuhan itu sendiri,” tutur Rektor NPU Dr. H. Kurniawan, ST., M.Si., MM.

Mengapa kita memeluk Islam? Jika nenek moyang kita bukan Muslim, mungkinkah kita akan memeluk Islam? “Di situlah adanya nilai, mengapa Islam mengajarkan bissmillahirahmaanirrahim. Disebutkan dalam ummul kitab, jika dalam Islam, yang pertama itu adalah Cinta Kasih dan sikap penyayang, karena islam itu agama yang damai. Mustahil ada kedamaian tanpa rasa cinta kasih dan sayang,” imbuhnya.

Itulah dalam Islam sendiri, tambah Kurniawan, setiap akan memulai aktivitas kebaikan, kita diajarkan untuk mengucap bissmillahirahmaanirrahim, atau sebutlah nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Di sinilah pentingnya memaknai “bertuhan” sebagai “cinta kasih” dan dibarengi rasa “sayang”. Mustahil manusia mengaku bertuhan jika tidak memiliki rasa “cinta kasih” dan dibarengi rasa “sayang”. Jadi, bisa dibayangkan jika dunia ini tanpa Tuhan dan tanpa agama, mungkin manusia itu akan berperang terus menerus, akibat ketiadaan rasa “cinta kasih” dan dibarengi rasa “sayang” itu sediri.

“Jadi mengapa Insan Nusa Putra harus mencintai Tuhannya atas dasar-dasar makna bertuhan di atas? Pertama, bahwa agama mengajarkan bertuhan itu dengan dibarengi rasa “cinta kasih” dan “sayang”. Sehingga Insan-insan Nusa Putra tidak akan terpaksa atau karena rasa takut dalam beragama dan bertuhan, tetapi dinikmati dengan sepenuh cinta kasih dan sayang,” urainya lebih jauh.

Kedua, jika kita menempatkan cinta kasih dan sayang sebagai pondasi bertuhan dan beragama, maka tidak akan ada terorisme. Karena akar dari persoalan terorisme adalah ketiadaan rasa “cinta kasih” dan “sayang”.

Ketiga, akibat ketiadaan rasa “cinta kasih” dan “sayang” pulalah, banyak manusia saling mengkafirkan dan menistakan manusia lainnya hanya karena berbeda agama dan Tuhannya. Padahal di dalam islam sendiri, sudah jelas qulhuallahuahad dan Allahushomad. Dengan demikian, Allah itu tidak bisa di persekutukan, tidak bisa dipersepsikan, dan tidak bisa dilambangkan dengan apapun, terlebih dengan manusia.

“Saya yakin jika Insan Nusa putra menerapkan trilogi tadi, maka akan dimudahkan dalam menjalani hidupnya, karena apapun motivasinya, ia akan berjalan atas nama Tuhannya,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *